Kelola Nafkah Keluarga saat Pandemi Covid-19 Melalui Akuntansi Rumah Tangga

Home / Gaya Hidup / Kelola Nafkah Keluarga saat Pandemi Covid-19 Melalui Akuntansi Rumah Tangga
Kelola Nafkah Keluarga saat Pandemi Covid-19 Melalui Akuntansi Rumah Tangga Dosen Akuntansi STIE Perbanas Surabaya, Riski Aprilia Nita, S.E., M.A (FOTO: dok. Humas Perbanas for TIMES Indonesia)

TIMESSERANG, SURABAYAPandemi Covid-19 membuat perekonomian dan kondisi keuangan keluarga terganggu. Tidak dipungkiri, pembatasan sosial ini menyebabkan kecemasan terhadap kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup akibat pendapatan rumah tangga yang menurun.

Saat penghasilan dalam sebuah keluarga goyah, maka dapat dipastikan rumah tangga mengalami kesulitan keuangan (financial distress). Minimnya pengetahuan anggota keluarga tentang pengelolaan keuangan dapat memperburuk kondisi rumah tangga dalam menghadapi pandemi.

Dosen Akuntansi STIE Perbanas Surabaya, Riski Aprilia Nita, S.E., M.A., menegaskan rumah tangga merupakan entitas sosial ekonomi yang memiliki hubungan untuk menjalankan nafkah untuk mempertahankan kelangsungan hidup bersama. Nafkah sebagai pendapatan dalam rumah tangga sehingga perlu dikelola dengan baik untuk bertahan dalam kondisi luar biasa seperti saat ini. Selaras bidang ilmunya, akuntansi rumah tangga bisa dipraktikkan dalam kondisi pandemi covid-19 ini.

”Akuntansi rumah tangga diperkenalkan sebagai bentuk praktik akuntansi yang terdiri dari aktivitas pencatatan, pengukuran, dan penyajian. Dalam rumah tangga, terdapat beberapa anggota yang memiliki peran masing-masing. Catatlah semua pengeluaran yang terjadi sampai dengan nafkah diterima kembali mulai dari harian, mingguan, atau bulanan,” jelasnya.

Menurut Riski, pembiasaan melakukan pencatatan pada nafkah dan pengeluaran dapat mencegah rumah tangga dari keterpurukan finansial. Jangan lupa mencatat alokasi tabungan sebagai modal ekonomi rumah tangga saat mengalami kondisi tak terduga.

Lanjutnya, pengukuran dilakukan dengan membandingkan pengeluaran rumah tangga dengan nafkah yang diterima, baik nafkah tunggal (kompensasi kerja yang berasal dari 1 sumber) atau nafkah pola ganda (kompensasi kerja yang berasal dari 2 sumber atau lebih). Pengukuran juga dapat dipraktikkan untuk membuat skala prioritas atas kebutuhan rumah tangga.

Riski menyarankan untuk menunda penggunaan nafkah rumah tangga untuk kebutuhan yang tidak penting. Selama stay at home, berbagai aplikasi marketplace hadir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan beragam promo, cashback, diskon dengan jumlah tertentu. ”Penawaran ini sering membuat ‘keblinger’ sehingga kita lalai terhadap kebutuhan yang seharusnya dipenuhi dan tidak,” kata Riski, Rabu (20/5/2020).

Terakhir, praktik akuntansi dalam pengelolaan nafkah rumah tangga adalah penyajian. Riski menekankan, saat pengelola keuangan rumah tangga perlu dikomunikasikan dengan anggota keluarga.  Apabila terdapat realisasi yang melebihi pencatatan, seperti keputusan pembelian barang, pembayaran tagihan yang rutin dilakukan, dan aktivitas yang muncul di luar kebutuhan yang diprioritaskan. ”Pembiasaan menyajikan transparansi keuangan kepada anggota keluarga dapat mencegah terjadinya utang konsumtif yang secara terus-menerus karena besar pasak daripada tiang,” tegasnya.

Riski mengakui diperlukan tenaga ekstra untuk mengubah pengelolaan nafkah, namun bukan berarti tidak bisa dipraktikkan. Mental akuntansi memang dibutuhkan untuk menyikapi situasi pandemi seperti ini agar terhindar dari aktivitas finansial yang irasional atau percaya diri berlebihan terhadap kemampuan finansial rumah tangga.

”Semua kalangan masyarakat memiliki konsekuensi yang berat atas musibah ini. Dalam akuntansi rumah tangga, tanggung jawab terhadap kebermanfaatan nafkah menjadi nilai penting untuk mencapai tujuan di masa depan. Tetap semangat, berpikir positif dan yakinlah bahwa kondisi ini segera berlalu,” kata Dosen Akuntansi STIE Perbanas Surabaya itu. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com