Orang Tua Wajib Tau! Begini Cara Menjaga Kesehatan Mata Anak Selama Study From Home

Home / Gaya Hidup / Orang Tua Wajib Tau! Begini Cara Menjaga Kesehatan Mata Anak Selama Study From Home
Orang Tua Wajib Tau! Begini Cara Menjaga Kesehatan Mata Anak Selama Study From Home dr. Sawitri Boengas, Sp.M. Dokter spesialis mata sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (Ubaya). (Foto: Humas Ubaya for TIMES Indonesia)

TIMESSERANG, SURABAYA – Selama pandemi Covid-19, anak-anak melakukan kegiatan belajar di rumah atau study from home. Situasi ini membuat anak lebih sering menatap layar laptop dan gawai. Jika tak diperhatikan denga benar, hal ini bisa mengganggu kesehatan mata anak

Dokter spesialis mata sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (Ubaya), dr. Sawitri Boengas, Sp.M. ingin memberikan tips kepada orang tua dalam menjaga kesehatan mata anak selama study from home agar tidak terjadi mata minus dan menyebabkan kehilangan ketajaman penglihatan si buah hati.

Peran orang tua sangat penting selama proses perkembangan dan pertumbuhan seorang anak termasuk dalam menjaga kesehatan mata.

“Sekarang ini terjadi peningkatan angka mata minus atau miopia pada anak-anak. Jika sekitar 10 tahun lalu, yang sering mengalami rabun jauh yaitu anak yang duduk di bangku SMP dan SMA. Saat ini sudah berbeda, anak SD bahkan TK sudah ada yang mengalami mata minus," jelas dr Sawitri.

Kondisi ini karena, lanjutnya, eranya sudah berbeda. Menurut dr. Sawitri, ketika anak sudah bisa duduk biasanya orang tua zaman now sudah memberikan dan mengenalkan gadget.

Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (Ubaya) ini menjelaskan jika seorang anak memiliki daya akomodasi mata yang lebih besar dan berbeda dengan orang dewasa. Namun, anak dapat mengalami perpanjangan bola mata yang dapat mengakibatkan rabun jauh atau miopia. Jika bola mata semakin memanjang (lonjong) maka minus yang diderita anak akan semakin tinggi.

Selama proses pertumbuhan maka terdapat pertambahan bentuk tulang-tulang mata sehingga bola mata akan semakin besar dan sifatnya lebih elastis. Pada manusia, daya akomodasi mata dan elastisitas akan berkurang dan berdampak pada penglihatan seiring bertambahnya usia.

Anak-anak memiliki daya akomodasi yang besar sehingga tidak lelah jika melakukan ritual penglihatan dengan jarak dekat dengan laptop atau gadget. Berbeda dengan orang dewasa yang daya akomodasinya kecil sehingga mudah lelah pada mata.

"Jika anak bermain gadget selama satu hari penuh, rata-rata tidak memberikan gejala apa-apa. Namun, gejala akan muncul ketika anak harus melihat jauh dan penglihatan menjadi buram,” ucap dr. Sawitri Boengas, Sabtu (16/5/2020).

Sebenarnya gawai tidak disarankan untuk anak-anak di waktu pertumbuhan bola mata saat usia 10 tahun pertama. Namun, kondisi Covid-19 membuat hal ini menjadi berbeda dan tidak ada pilihan lain untuk menggunakan laptop dan gawai.

“Kita perlu menerapkan visual hygiene yaitu cara menggunakan mata yang baik sehingga tidak membuat gangguan penglihatan yang belum ada menjadi ada atau yang sudah ada menjadi lebih buruk,” sambungnya.

Penerapan visual hygiene harus dilakukan dengan prosedur penggunaan mata dengan benar. Pertama, jika belajar atau bermain menggunakan laptop dan gawai sebaiknya dalam posisi duduk yang nyaman dengan jarak sekitar 60 cm.

Selanjutnya, penerangan harus cukup dengan brightness layar tidak terlalu terang atau redup. Perhatikan juga kondisi ruangan jangan terlalu gelap dan pastikan tidak ada pantulan cahaya yang membuat silau mata anak. Durasi waktu belajar dan bermain yang baik dalam menggunakan laptop atau gawai kurang lebih selama satu jam kemudian melakukan istirahat mata.

“Lakukan rumus 20-20-20 artinya setiap menatap laptop atau gadget selama 20 menit harus melakukan istirahat dengan memejamkan mata selama 20 detik untuk menghindari mata kering. Kemudian 20 detiknya lagi kita dapat melihat barang detail yang berjarak 5 hingga 6 meter seperti jam atau vas bunga. Lakukan ini berulang kali hingga 20 detik dengan melihat barang detail kemudian kembali ke laptop,” jelas dr. Sawitri Boengas.

Anak juga bisa menggerakkan bola mata keseluruh arah dan berputar agar otot mata lebih lentur dan kelelahan mata tidak semakin parah. Orang tua dapat menyiapkan air minum untuk anak di dekat laptop ketika mereka beraktivitas. Kondisi menggunakan laptop atau gawai dalam jangka waktu yang cukup lama dengan penggunaan AC (Air Conditioner) di dalam rumah dapat menyebabkan mata relatif kering dan anak menjadi lupa untuk minum.

Ditambah lagi, berjemur pagi dan melakukan aktivitas di bawah sinar matahari sangat baik bagi kesehatan sekaligus membantu mengurangi laju produktivitas hormon pemanjangan bola mata yang diakibatkan dari faktor keluarga atau genetik yang memiliki kecenderungan mata minus.

Selain itu, konsumsi buah dan sayur berwarna jingga seperti wortel atau labu kuning juga baik untuk menjaga sel-sel penglihatan dan kesehatan mata. Terakhir, kompres mata dengan handuk yang diberi air hangat selama 15 menit sebanyak tiga kali sehari yaitu pagi, siang, dan malam. Hal ini dilakukan untuk mengurangi mata kering.

Saat ini, masyarakat pun dianjurkan untuk menggunakan obat tetes mata yang berisi air mata buatan dan tidak menggunakan pengawet untuk menghindari mata kering. Jika ada kuman yang masuk dan menempel di lapisan air mata dengan kondisi mata kering maka akan lebih mudah terjadi infeksi.

Selain untuk menjaga kesehatan mata anak saat menjalankan study from home, tips ini bisa diterapkan untuk orang dewasa yang melakukan Work From Home (WFH). Umumnya, orang dewasa lebih cepat mengalami kelelahan mata karena terlalu lama bekerja menatap layar laptop. Ini tidak boleh dianggap remeh, seseorang bahkan anak-anak dapat terkena Computer Vision Syndrome (CVS). (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com